Firman Allah Taala Yang bermaksud:
"Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajalnya
mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) mencepatkannya."
(Surah Al-A'raf: ayat 34)

Sunday, February 10, 2013

Seksaan Azab Kubur

Saya ambil kisah daripada berita yang tersebar sekitar tahun 2006. Petikan berita tentang azab seksaan kubur yang digambarkan adalah seperti berikut:-
 
On this photo a 18-year old young man who died in one of hospitals of Oman .
Di photo ini adalah seorang pemuda berusia 18 tahun yang meninggal di salah satu rumah sakit di oman.

The corpse of the boy has been dug out from a tomb in 3 hours after his funeral under the insisting of his father.
Mayat pemuda tersebut digali kembali dari kuburnya setelah 3 jam di makamkan yang di saksikan oleh ayahnya .

The boy died in hospital and has been buried under the Islamic law and on the same day after obligatory ablution of the body.
Pemuda tersebut meninggal dirumah sakit dan setelah di mandikan di makamkan secara islam di hari itu juga .


However after funeral the father has doubted of the diagnosis of doctors and wanted to identify the true reason of his death.
Tetapi setelah pemakaman, ayahnya merasa ragu atas diagnosa doktor dan menginginkan untuk di identifikasi kebenaran penyebab kematianya.

Relatives and his friends shocked when they saw the corpse.
Seluruh kerabat dan teman - temannya begitu terkejut saat mereka melihat keadaan mayat .


He was completely different within 3 hours.
Mayat tsb begitu berbeza dalam 3 jam.

He turned grey as the very old man,
dia berubah kegelapan seperti orang yang sudah tua .

with traces of obvious tortures and the most severe beating,
Dengan tampak jelas bekas siksaan dan pukulan yang amat keras 
                             
and with the broken bones of hands and legs, with the edges broken a, nd pressed into a body.
dan dengan tulang - tulang kaki dan tangan yang hancur begitu juga hujung hujungnya sehingga menekan kebadannya. 
                              
All His body and face were full of bruise.
Seluruh badan dan mukanya lebam.

 
The open eyes-showed hopeless fear and pain .
Matanya yang terbuka memerlihatkan ketakutan, harapan dan kesakitan          
                  .
The blood obviously attributes that the boy has been subjected to the most severe torture.
Darah yang begitu jelas menandakan bahwa pemuda tersebut sedang mendapatkan siksaan yang amat berat.

Close relatives of the dead man have addressed to Islamic scientists who have unequivocally declared that it is available results of tomb torture which the Allah ( s.w.t) and in the Hadis of Prophet Muhammad (s.a.w) have warned.
Sebagai penutup dari orang yang meninggal tersebut semuanya di tujukan kepada Ilmu pengetahuan tentang Islam yang mana tidak dapat dimungkiri lagi keterangannya bahwa siksa kubur itu benar adanya seperti yang di peringatkan oleh ALLAH SWT dan Nabi Muhammad S.A.W.
The shocked father of the boy has admitted that his son was spoilt, did not do Solat, and had a carefree way of life, having involved in different sins.

Each died person comes across tests in the tomb for exception Shahids who died in Jihad on the way of Allah. This is first terrible test which the person comes across before the Doomsday.

In Hadis of Prophet Muhammad (s.a.w):

- After the death the spirit of died person will return to a body then two Angels will come, Munkar and Nakir, and will ask: "Who is your Lord?" he will answer: "my Lord - Allah ". Then they will ask: "What is your religion?" he will answer: "My religion - Islam". Then they will ask him: "Who that person who has been sent to you?" he will answer: "He is the Prophet of Allah ". Then they will ask him: "How do you know?" He will answer: "I read the Book of Allah and trusted Him.

And then from heavens the voice will come: " My Slave has told the truth, lay it to bed from Paradise and open the Gate of Paradise " - then it will be full of pleasure and he begins to feel paradise pleasure, and his tomb becomes spacious, that eyes can reach.

The Prophet of Allah Muhammad (s.a.w) said about the sinners. After the death the spirit of died person will return to the body then two Angels will come and ask, "Who is your Lord?" he will answer: "I do not know". Then they will ask: " Who that person who has been sent to you?" he again will answer: I "do not know" - and then from the sky the voice will come: "he told a lie, Put him into a box from fire and open before it the Gate of a hell! "-then it will be captured with heat of the hell, and his tomb becomes narrow and the edges will be compressed.

In Hadis it is also said, that Angels will severely beat the sinners during interrogation in the tomb and this torture will be awful. It is informed also, that our Messenger (s.a.w) supplicated to Allah to protect Him from tortures of a tomb and asked other people to do so.

The history of 18-year old young men is a sign for believers and this is only next fairy tale for whom hearts are sealed by Allah. They look and do not see, listen and do not hear?                               
mistakes.

Monday, January 28, 2013

Cara Memperkukuhkan Tali Persaudaraan


Berbicara persaudaran Islam, mungkin ada dikalangan kita menganggap suatu yang remeh. Tapi sedar atau tidak sedar persaudaraan Islam dikalangan umat Islam makin hampir tipis. Bahkan dalam jammah Islam pun persaudaraan Islam tidak sebagaimana yang diajukan oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Agama Islam telah meletakkan dasar-dasar praktis dan cara yang positif dalam usaha memperkukuhkan ikatan cinta kasih dan dalam memperdalamkan roh ukhwah. Jika peraturan-peraturan ini di pegang teguh oleh umat Islam maka persaudaraan (ukhwah) itu akan semakin kukuh. Beberapa panduan untuk tercapainya kekukuhan roh ukhwah cara persaudaraan :

MEMBERITAHU KEPADA SAUDARA YANG DICINTAINYA - Rasulullah SAW bersabda ertinya: "Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaknya ia memberitahu kepadanya." HR Abu Daud dan Tirmizi.

BERDOA UNTUK MEREKA - Menurut riwayat Muslim bahawa Rasullah bersabda: "Tidak seorang hamba mukmin berdoa untuk saudaranya dari kejauhan kemungkaran melainkan malaikat berkata; dan bagimu juga seperti itu."

MEMBERI SENYUMAN KETIKA BERTEMU - Seperti yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Dzar r.a bahawa Rasulullah bersabda ertinya: "Janganlah engkau remehkan kebaikan apa saja (yang datang dari saudaramu). Dan jika engkau berjumpa saudaramu maka berikan dia senyuman kegembiraan." (HR Muslim)

BERJABAT TANGAN BILA BERTEMU - Rasulullah SAW menganjurkan umatnya bila bertemu dengan saudara-saudara agar cepat-cepatlah berjabat tangan sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Daud dari Barra: "Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah."

MENGUNJUNGI SAUDARA - Dalam kitabnya Al Muwathtaa Iman Malik meriwayatkan: Bersabda Nabi Muhammad SAW bahawa Allah berfirman : "Pasti akan mendapat cintaku orang-orang yang mencintai kerana Aku, dimana keduanya saling berkunjung kerana Aku dan saling memberi kerana Aku."

MENYAMPAIKAN UCAPAN SELAMAT - Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra bahawa Rasulullah SAW bersabda ertinya: "Barangsiapa mengucapkan selamat kepada saudaranya ketika saudaranya mendapat kebahagiaan nescaya Allah menggembirakan pada hari kiamat." (HR Tabrani). Rasulullah SAW pernah mengajar hal tersebut seperti dicontohkan dalam hal-hal sebagai berikut: Berkenaan dengan kelahiran anak: "Semoga anda diberkati atas pemberianNya itu dan bersyukur dengan Yang Memberi Rezeki mulai dari kelahiran dilimpahi dengan kebaikan hingga hari tuanya." (HR Husein bin Ali RA)

Apabila kembali dari menunaikan haji: "Semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosamu, dan menggantikan nafkahmu." (HR Ibnu Sunni dari Ibnu Umar RA)

Bila salah seorang saudara menikah : "Mudah-mudahan Allah mengekalkan keberkatan atasmu dan mengumpulkanmu berdua di dalam kebaikan." (HR Abu Daud dan Tirmizi dari Abu Hurairah) Ucapan Selamat Aidil Fitri : Semoga Allah menerima amal kita, membalas kebaikan saudara dengan ucapan selamat: "Semoga Allah memberkatimu, keluargamu, hartamu, dan mudah-mudahan Allah membalas kebaikan kepadamu." (HR Nasa' dari Ibnu Majah)

MEMBERI HADIAH - Imam Dailami meriwayatkan dari Anas dengan marfu' bahawa Rasulullah SAW bersabda ertinya: "Hendaklah kalian saling memberi hadiah kerana hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati."

Dalam hadisnya marfu, Imam Thabrani meriwayatkan dari Aisyah RA bahawa Rasulullah bersabda ertinya: "Biasakanlah kamu saling memberi hadiah nescaya kamu akan saling mencintai."

MEMPERHATIKAN KEPERLUAN SAUDARA - Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Bahawa Rasulullah SAW bersabda ertinya: "Siapa yang meringankan beban penderitaan seorang mukmin di dunia pasti Allah akan meringankan beban penderitaannya di akhirat kelak. Siapa yang memudahkan orang dalam keadaan susah pasti Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.

Siapa yang menutupi aib seseorang muslim pasti Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu menolong hambaNya jika hamba tersebut menolong saudaranya." (HR Muslim)

MENEGAKKAN HAK-HAK PERSAUDARAAN - Untuk memperkukuhkan ukhwah maka adalah wajib bagi kita untuk menunaikan hak-hak yang dimiliki saudara lain, seperti menziarah saudaranya yang sakit, mendoakannya ketika bersin, dan menolong bagi yang teraniaya (dizalimi).

Oleh kerana itu adalah tidak perlu ragu lagi bagi kita bila seorang muslim memberitahu saudaranya bahawa ia mencintainya, membiasakan mendoakan saudaranya dari jauh, bersikap senang apabila berjumpa dengan saudaranya, membiasakan berjabat tangan bila berjumpa, mengucapkan salam, memberi hadiah, saling menziarahi.

Maksud dari semua itu adalah tidak lain untuk menunjukkan rasa cinta kasih sekali gus untuk mempereratkan ukhwah bila dalam melaksanakannya adalah betul-betul ikhlas kerana Allah SWT.

Friday, January 18, 2013

Berdiam diri cara mudah elak fitnah


LISAN atau lidah adalah anggota tubuh manusia terpenting dan menjadi satu daripada nikmat Allah yang wajib disyukuri. Dengan lidah, manusia dapat bertutur kata dan berhubung sesama manusia, arahan kepada haiwan dan menzahirkan sesuatu dalam bentuk perkataan kepada Allah.

Gabungan lidah, rongga mulut dan olahan nafas daripada kerongkong melahirkan perkataan dan nada suara sebagai bahasa pertuturan ketika berkomunikasi. Individu tidak mampu bercakap dianggap cacat atau bisu.

Orang yang sempurna kemampuan lidahnya perlu bersyukur dan melahirkan suara enak didengar dan memberi manfaat. Malah, dosa manusia banyak berpunca daripada keterlanjuran mulut yang tidak dikawal. Kata orang kerana pulut santan binasa, kerana mulut badan merana. Sebab itulah, besar faedahnya sesiapa yang mampu menjaga lidahnya daripada memperkatakan tidak baik.

Rasulullah bersabda bermaksud: “Aku memberi jaminan sebuah rumah dalam kebun syurga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun dia benar. Aku juga memberi jaminan sebuah rumah di tengah syurga bagi orang yang tidak berbohong walaupun sekadar bergurau. Aku juga memberi jaminan sebuah rumah di tempat paling tinggi di dalam syurga bagi orang mempunyai budi pekerti baik.” (Hadis riwayat Abu Daud).

Tutur kata baik boleh diumpamakan seperti mutiara yang disukai semua orang. Oleh sebab itu, tutur kata baik akan menarik minat orang lain mendengarnya dengan perasaan ceria, kagum dan mengiyakan. Tarikan kepada kata-kata akan meletakkan penutur sebagai orang disenangi, disanjungi, dicontohi dan diterima kata-kata itu untuk tujuan kebaikan.

Justeru, Islam amat prihatin terhadap cara bercakap agar tidak mengeluarkan kata-kata tidak baik. Setiap perkataan dikeluarkan dari mulut membabitkan hubungan sesama manusia dan hubungan dengan Allah.

Percakapan juga seperti perbuatan melambangkan tahap keimanan seseorang. Orang beriman menjaga setiap tutur katanya bagi mengelak perkara buruk akibatnya seperti mengumpat, menyebar fitnah, mengeji dan berbohong.

Memandangkan besarnya bencana berpunca daripada lidah, Rasulullah menganjurkan sesiapa yang tidak mampu mengawalnya daripada berkata-kata tidak baik, lebih baik dia mendiamkan diri.

Rasulullah bersabda bermaksud: “Sesiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka bercakaplah perkara yang baik atau mendiamkan diri.” (Hadis riwayat Muslim dan Bukhari).

Berdiam diri adalah cara paling mudah menyelamatkan diri daripada fitnah, mengumpat dan berkata-kata perkataan tidak perlu. Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda: “Sesiapa yang diam, dia akan selamat.” (Hadis riwayat Ahmad).

Beruntunglah sesiapa yang mampu menjaga kata-katanya sehingga menjadi lambang ketulusan budi dan pekertinya. Sesiapa yang sentiasa berkata benar dan disenangi orang lain, hidupnya dalam kesejahteraan dan damai.

Memang tidak dinafikan sukar berdiam diri, terutama ketika bersama ahli keluarga, kawan dan rakan setugas, takut nanti pula dikatakan sombong, tidak pandai bergaul, ‘kera sumbang’ dan antisosial. Inilah sebenarnya cabaran yang terpaksa dihadapi dan berusaha menyesuaikan diri dalam keadaan memerlukan kebijaksanaan fikiran dan kekuatan iman.

Nabi pernah bersabda: “Diam itu adalah suatu hukum dan sedikitlah (orang) yang melaksanakannya.” (Hadis riwayat Abu Mansur ad-Dailami). Jelas sekali bahawa diam atau mengelak diri daripada memperkatakan perkataan buruk adalah suatu hukum atau perintah yang amat dituntut.

Tidak dinafikan kadang kala perkataan diucapkan tidak melambangkan maksud sebenar yang hendak diucapkan. Jadi, sekiranya terkeluar perkataan tidak baik, cepat-cepat bertaubat dan mengaku kesalahan diri. Adalah mulia orang yang mengaku kesalahan dan ikhlas menarik balik keterlanjuran kata-katanya.

Sombong pisahkan Muslim daripada syurga


RASULULLAH tidak pernah ketinggalan memberi peringatan kepada umatnya betapa buruk dan kejinya sifat sombong dan takbur dalam kehidupan ummah sejagat.

Sabda Baginda yang bermaksud: “Tidak akan masuk syurga orang yang dalam hatinya mempunyai sifat sombong walaupun sebesar biji sawi.” (Riwayat Muslim).

Dalam hadis lain, Baginda pernah bersabda bermaksud: “Manusia yang jahat ialah manusia yang sombong, keras kepala dan melampaui batas. Orang yang sombong dan keras kepala itu lupa kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi.

“Manusia yang jahat itulah manusia yang keras kepala dan yang sombong. Dia lupa kepada Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi. Manusia yang jahat ialah manusia yang lalai dan lupa.

“Dia lupa kepada kubur dan kehancuran tubuh dalamnya. Amatlah jahat manusia yang sombong dan melampaui batas. Dia lupa kepada permulaan dan kesudahan.” (Riwayat Tirmizi).

Sifat sombong adalah akhlak keji yang menjadi dinding pemisah antara seseorang itu dengan syurga. Sedangkan pintu syurga hanya boleh dibuka dengan anak kunci akhlak yang mulia lagi terpuji.

Antara sebab seseorang itu bersifat sombong dan angkuh kerana memiliki kekuasaan yang tidak terbatas.

Pemimpin sombong akan berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan apa cara sekalipun, sama ada dengan memfitnah, mengadu domba dan mengusir, bahkan membunuh setiap orang yang dianggapnya akan mengganggu-gugat kekuasaannya.

Seorang pemimpin sombong sebagaimana dirakamkan al-Quran ialah Firaun. Dia seorang pemimpin zalim, yang memiliki kekuasaan yang tiada terbatas, dapat menguasai secara fizikal atau mental sehingga rakyat memberikan sokongan membabi buta kepadanya.

Akhirnya, Firaun dengan kesombongannya berani mendakwa dan mengaku dirinya Tuhan kepada rakyat bawahannya.

Selain itu, harta benda melimpah ruah kurniaan Allah antara yang menyebabkan seseorang itu bersifat sombong dan takbur.

Harta benda yang banyak inilah yang menyebabkan Qarun lupa diri, lalu bersifat sombong dan takbur hingga mendakwa bahawa harta itu diperoleh melalui usahanya sendirinya.

Akhirnya, Qarun dibinasakan Allah bersama harta kekayaannya sebagaimana kisahnya yang dirakamkan Allah dalam firman-Nya bermaksud: “Qarun menjawab (dengan sombongnya): Aku diberikan harta kekayaan ini hanya disebabkan pengetahuan dan kepandaian yang ada padaku. (Kalaulah Qarun bijak pandai) tidakkah dia mengetahui dan pandai memahami bahawa Allah membinasakan sebelumnya daripada umat terdahulu, orang yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta kekayaan. Dan ingatlah orang yang berdosa (apabila mereka diseksa) tidak lagi ditanya mengenai dosa mereka (kerana Allah sedia mengetahuinya).” (Surah al-Qasas, ayat 78).

Sifat takbur yang paling buruk ialah apabila seseorang itu tidak mengamalkan ilmu yang dipelajarinya sama ada ilmu agama atau pengetahuan keduniaan yang memberi manfaat.

Oleh kerana ilmu pengetahuan itu adalah hak atau kebenaran, maka orang yang tidak mahu tunduk dan menerima kebenaran itu dengan sendirinya menentang Allah.

Ini kerana kesombongan seseorang itulah yang menghalangnya daripada menerima hidayah Ilahi dan kebenaran al-Quran. Ini sebagaimana berlaku kepada masyarakat Quraish Makkah yang menolak kebenaran dakwah Rasulullah.

Sifat takbur bukan hanya menyerang orang berilmu, bahkan mereka yang banyak amal ibadatnya. Orang beribadat dengan tujuan menarik perhatian orang sekelilingnya dan memikirkan ia satu kelebihan bagi dirinya berbanding orang lain.

Malah, dia juga sering terbawa-bawa dengan kesombongannya apabila beranggapan bahawa semua manusia rosak agamanya dan sesat, hanya dia terselamat dan berpegang teguh dengan agamanya.

Wednesday, January 2, 2013

Bangun dan Sujud pada Tengah Malam

Bangun dan sujud pada tengah malam adalah amalan Rasulullah serta para sahabat.

Saidina Abu Bakar al-Siddiq adalah seorang sahabat Rasulullah SAW yang amat penyedih. Apabila beliau membaca ayat Allah, air matanya tidak dapat dibendung. Hatinya begitu lembut, sensitif dan cepat tersentuh.

Saidina Umar pula suka mengingatkan dirinya terhadap hari perhitungan. Ketakutan sentiasa menguasai hatinya. Wajahnya diguris bekas aliran tangisan yang terus-menerus mengalir mengingat hari perjumpaan dengan Allah kelak.

Ketika dalam keadaan sakit tenat yang membawa kepada kematiannya, beliau berkata, kepada anaknya Abdullah bin Umar: "Letakkan pipiku di atas tanah." Abdullah melarang dengan lembut sambil berkata: "Wahai ayah, bukankah itu akan membuatmu semakin sakit?" Umar berkata lagi: "Aku tidak peduli, letakkan aku di atas tanah, celakalah aku jika Tuhanku tidak merahmati aku!"

Tangisan adalah ubat bagi hati yang keras. Ia mendatangkan cahaya dan membersih daripada kekotoran dosa, manakala berlebihan tertawa dan bersenda gurau membawa kepada kelalaian, mengeraskan hati dan mengeruhkan kesuciannya.

Rasulullah SAW suatu ketika bertemu sahabat yang tertawa sambil bergurau.

Baginda SAW bersabda maksudnya: "Jika kamu semua mengetahui seperti apa yang aku ketahui, nescaya kamu akan banyak menangis dan sedikit tertawa."

Ada beberapa alasan mengapa orang beriman perlu menangisi dirinya.

a) Dia tidak tahu qada dan qadar atas dirinya.

Rasulullah SAW bersabda maksudnya: "Sesungguhnya kamu dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibu 40 hari air mani, kemudian menjadi segumpal darah selama 40 hari lagi, kemudian menjadi seketul daging selama 40 hari, kemudian diutuskan kepadanya malaikat lalu ditiupkan roh kepadanya dan dituliskan empat kalimah iaitu rezekinya, umurnya, amalnya, celakanya atau bahagianya. Maka, demi Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya seseorang mengerjakan amal ahli syurga sehingga tidak ada jarak antaranya dengan syurga itu melainkan sehasta, kemudian terdahulu atasnya ketentuan tulisan lalu ia pun mengerjakan amal ahli neraka maka masuklah ia ke dalamnya. Dan seseorang mengerjakan amal ahli neraka sehingga tidak ada jarak di antaranya dengan neraka kecuali sehasta. Kemudian terdahulu atasnya ketentuan tulisan lalu dia pun mengerjakan amalan ahli syurga maka masuklah dia ke dalamnya." (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Siapakah yang boleh menjamin nama kita termasuk dalam senarai ahli syurga?

Tidakkah hal itu petanda bahawa kita tidak berkuasa menolong diri sendiri?

Letakkanlah diri kita sentiasa dalam keadaan cemas, takut dan harap kepada

Allah. Caranya dengan banyak menangis dan memohon pertolongan- Nya.


b) Menangislah kerana ingat terhadap malam pertama di alam kubur.

Siapakah yang menjadi teman untuk seorang pengantin yang memakai helaian kafan? Ditinggalkan sendirian menanggung nasib, meratapi kepergian orang yang menghantar ke kuburnya. Jangan pergi! Mana anakku, isteri dan saudara mara yang dulu mengasihiku? Semua hartaku, siapa yang menghabiskan segala jerih payahku selama ini? Lubang itu terlalu sempit, tempat cacing dan ulat menggigit-gigit.

Malam pertama di sini sungguh berat ditanggung sendiri. Ada malaikat yang datang membawa urusan amat penting. Persoalan yang bukan senda gurau kekasih pada malam pengantin. Bahkan, gertakan yang mengecutkan hati dan kekerasan yang memadamkan kegembiraan.

Siapakah yang mahu menolong aku, menemani dan membela diriku? Di mana sembahyang, puasa, haji dan sedekahku? Datanglah selimuti aku daripada kepedihan seksa ini. Di mana bacaan al-Quran, zikir dan kelembutan lidah yang pernah mengeluarkan kata-kata yang baik?

Datanglah semua segala kebaikanku dari atas kepala, di sebelah tangan, di kaki, di seluruh tubuh badan yang kaku dan pucat ini.

Siapakah yang sanggup membela jika bukan amal salih di dunia. Mayat itu menangis di perut bumi, menyesal mengapa dulu ia tidak menangis ketika bersimpuh di atas bumi?


c) Menangis kerana ingatkan hari perhitungan.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: "Orang yang muflis di kalangan umatku ialah: Seseorang yang datang pada hari kiamat dengan pahala sembahyang, puasa dan zakat. Tetapi, dia pernah mencaci si polan, menuduh si polan, menumpah darah si polan dan memukul si polan. Maka akan diberikan kepada orang yang teraniaya itu daripada pahala kebaikan orang tadi sehingga apabila habis pahalanya, sedangkan belum semua terbayar, maka akan diambil ganti dari dosa orang itu dan dibebankan kepadanya dan dia dicampakkan ke dalam neraka kerananya." (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)

Ingatlah keaiban diri yang terlalu banyak untuk dihitung, jangan sibuk menyebut aib orang lain. Semua orang di sekeliling kita tidak dapat menolong kecuali amal ibadat yang dilakukan dengan keikhlasan.

Bilakah saat dan ketika paling tepat untuk kita menangis supaya lembut hati yang keras oleh hawa nafsu yang dituruti? Pada tengah malam yang dingin, bangun dan berdiri tanpa diketahui oleh manusia yang asyik bermimpi, sujud dan doa yang panjang, bacaan al-Quran dan zikrullah juga istighfar.

Amalan ini menjadi kebiasaan Rasulullah SAW dan sahabatnya serta menjadi

ikutan orang salih yang mahukan ketenangan jiwa pada akhir zaman ini. Ubati kegelisahan, tekanan dan kesakitan jiwa dengan menangis, solat dan

zikrullah. ,_._,___

Monday, November 19, 2012

Jauhi Akhlak Buruk Sangka


Muktahir ini, sesetengah daripada kita terlalu mudah dan ghairah untuk mengeluarkan kenyataan atau tuduhan kepada individu lain tanpa sebarang bukti dan maklumat yang benar. Wujud dalam diri untuk mencari kesilapan orang yang tidak sependapat, malah ditabur fitnah dan penuh dengan buruk sangka.

Islam sentiasa menyuruh agar sentiasa bersangka baik sesama insan selagi mana belum ada keterangan dan bukti yang jelas membolehkan kita berbuat demikian.

Allah mengingatkan kita dalam firmanNya bermaksud:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kamu daripada sangkaan (iaitu sangkaan membawa kerosakan) kerana sesungguhnya sebahagian daripada sangkaan itu adalah dosa…” (Surah al-Hujurat: 12)

Ramai di antara kita hari ini gemar menilai perilaku individu lain tapa menoleh diri sendiri. Jika teguran hendak dibuat bagi muhasabah haruslah dibuat tanpa sebarang agenda dan matlamat tersendiri.

Ini jelas menyalahi apa dinasihatkan Rasulullah s.a.w:
“Aku tidak disuruh untuk menyelidiki setiap gerak hati manusia (membaca niat di hati manusia lain) dan perut mereka” (Riwayat Al-Bukhari, no 4094, 4/1581 : Muslim, 2/742)
Sebagai umat Islam, adab terbaik dan akhlak yang dianjurkan adalah dengan sentiasa berlapang dada, masihat menasihati atas dasar takwa buka atas dasar mencari kelemahan orang lain.

Tidak rugi jika kita tidak membuat tuduhan dan hanya bersifat memberi pandangan dan nasihat kerana Allah adalah bersifat membalik-balik hati takut nanti kita akan tergenlicir dalam landasan yang benar.

Peringatan ini Allah abadikan dalam ayatnya bermaksud:
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang-orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap suatu kaum itu mendorong kamu tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan”. (Al-Maidah : 8 )

Sunday, August 19, 2012

Mencintai sesama mukmin sebagaimana mencintai diri sendiri

الحـديث الثالث عشر

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَس بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ [رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Seorang mu’min dengan mu’min yang lainnya bagaikan satu jiwa, jika dia mencintai saudaranya maka seakan-akan dia mencintai dirinya sendiri.

Menjauhkan perbuatan hasad (dengki) dan bahwa hal tersebut bertentangan dengan kesempurnaan iman.

Iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

RINGKASAN SYARAH ARBA’IN AN-NAWAWI – SYAIKH SHALIH ALU SYAIKH HAFIZHOHULLOH
Hakikat Penafian Iman
Penafian iman mencakup menafikan iman secara keseluruhan atau hanya menafikan kesempurnaan imannya. Suatu amalan yang menyebabkan pelakunya dinafikan imannya menunjukkan bahwa amalan tersebut merupakan amal kekafiran atau dosa besar. Dalam hadits ini penafian iman yang dimaksud adalah penafian atas kesempurnaan iman.

Mencintai Saudara Muslim Laksana Mencintai Diri Sendiri

Seorang muslim wajib merasa senang jika saudaranya memiliki agama yang baik. Dia senang jika saudaranya memiliki aqidah yang benar, tutur kata yang bagus dan perbuatan yang baik. Sebaliknya dia merasa benci jika keadaan saudaranya tersebut justru sebaliknya.

Seorang muslim disunahkan untuk senang jika saudaranya mendapatkan kebaikan-kebaikan duniawi. Dia merasa senang jika saudaranya berharta, sejahtera, sehat, berkedudukan dan lain-lain dari kenikmatan duniawi, dan dia tidak senang jika saudaranya miskin, sengsara, dan menderita.

Mendahulukan Kepentingan Saudara Muslim

Jika dalam urusan dunia, mendahulukan kepentingan saudaranya termaksud perbuatan yang terpuji dan disunahkan, namun jika dalam urusan akhirat, mendahulukan saudaranya termasuk perbuatan yang makruh.

SYARAH IBNU DAQIQIL ‘IED
Demikianlah di dalam Shahih Bukhari, digunakan kalimat “milik saudaranya” tanpa kata yang menunjukkan keraguan. Di dalam Shahih Muslim disebutkan “milik saudaranya atau tetangganya” dengan kata yang menunjukkan keraguan.

Para ulama berkata bahwa “tidak beriman” yang dimaksudkan ialah imannya tidak sempurna karena bila tidak dimaksudkan demikian, maka berarti seseorang tidak memiliki iman sama sekali bila tidak mempunyai sifat seperti itu. Maksud kalimat “mencintai milik saudaranya” adalah mencintai hal-hal kebajikan atau hal yang mubah. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat Nasa’i yang berbunyi :
“Sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya seperti mencintainya untuk dirinya sendiri”.

Abu ‘Amr bin Shalah berkata : “ Perbuatan semacam ini terkadang dianggap sulit sehingga tidak mungkin dilakukan seseorang. Padahal tidak demikian, karena yang dimaksudkan ialah bahwa seseorang imannya tidak sempurna sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim seperti mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan sesuatu hal yang baik bagi diriya, misalnya tidak berdesak-desakkan di tempat ramai atau tidak mau mengurangi kenikmatan yang menjadi milik orang lain. Hal-hal semacam itu sebenarnya gampang dilakukan oleh orang yang berhati baik, tetapi sulit dilakukan orang yang berhati jahat”. Semoga Allah memaafkan kami dan saudara kami semua.

Abu Zinad berkata : “Secara tersurat Hadits ini menyatakan hak persaman, tetapi sebenarnya manusia itu punya sifat mengutamakan dirinya, karena sifat manusia suka melebihkan dirinya. Jika seseorang memperlakukan orang lain seperti memperlakukan dirinya sendiri, maka ia merasa dirinya berada di bawah orang yang diperlakukannya demikian. Bukankah sesungguhnya manusia itu senang haknya dipenuhi dan tidak dizhalimi? Sesungguhnya iman yang dikatakan paling sempurna ketika seseorang berlaku zhalim kepada orang lain atau ada hak orang lain pada dirinya, ia segera menginsafi perbuatannya sekalipun hal itu berat dilakukan.

Diriwayatkan bahwa Fudhail bin ‘Iyadz, berkata kepada Sufyan bin ‘Uyainah : “Jika anda menginginkan orang lain menjadi baik seperti anda, mengapa anda tidak menasihati orang itu karena Allah. Bagaimana lagi kalau anda menginginkan orang itu di bawah anda?” (tentunya anda tidak akan menasihatinya).

Sebagian ulama berpendapat : “Hadis ini mengandung makna bahwa seorang mukmin dengan mukmin lainnya laksana satu tubuh. Oleh karena itu, ia harus mencintai saudaranya sendiri sebagai tanda bahwa dua orang itu menyatu”.

Seperti tersebut pada Hadis lain :

“Orang-orang mukmin laksana satu tubuh, bila satu dari anggotanya sakit, maka seluruh tubuh turut mengeluh kesakitan dengan merasa demam dan tidak bisa tidur malam hari”.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...